Sabtu, 09 Mei 2009

identifikasi masalah...

Contoh Identifikasi masalah yaitu terjadinya pergeseran – pergeseran (krisis multidimensi) dalam setiap sendi kehidupan masyarakat; meliputi
1.Pergeseran Pemikiran (ideologi)
-Umat islam di Indonesia terbagi menjadi beberapa golongan dan berjalan kurang sinergis

-Maraknya kristenisasi/ ghozwul fikr

2.Pergeseran Orientasi
-adanya disorientrasi pada kader dakwah

3.Pergeseran Nilai Moral
- paradigma nilai2 sekulerisme
- belum adanya media
- Kebodohan/ sistem tarbiyah (Pendidikan) belum tertanamkan pada masyarakt indonesia

4.Pergeseran Perilaku
KKN, Korupsi

5.Pergeseran Budaya
-Beredarnya makanan tidak halal di masyarakat
-Arus globalisasi saat ini telah menimbulkan pengaruh terhadap perkembangan budaya bangsa Indonesia

6.Pergeseran Sistem Hidup
- Kemiskinan
-masyarakat islam mengadopsi disiplin ilmu dan pemikiran tanpa mempertimbangkan syariat islam
- belum terimplementasikannya islam sebagai solusi hidup

Kamis, 02 April 2009

American Influenza Jauh lebih MEMATIKAN

Ketika kepanikan terhadap avian influenza (AI) atau flu burung melanda kawasan Asia dan telah merasuki Eropa, justru sejumlah elite politik dan ekonomi di Amerika Serikat sana tertawa-tawa. Tidak lain dan tidak bukan, mereka adalah produsen Tamiflu, obat flu burung yang kini diekspor besar-besaran ke berbagai negara. Mereka yang juga beruntung adalah lima raksasa industri peternakan ayam Amerika, yakni Tyson Foods, Goldkist Inc, Pilgrim’s Pride, ConAgra Poultry, dan Perdue Farms.

Seperti memanfaatkan keterpurukan para peternak di Asia, peternak besar AS dengan jumawa mempropagandakan produk mereka. “Tidak seperti di Asia, di mana ayam dipelihara di tempat terbuka, ayam kami lebih aman karena dipelihara di kompleks tertutup dengan penanganan yang baik,” kata CEO Tyson Foods, Greg Lee, seperti dikutip F William Enghdahl dalam artikel yang dirilis Global Research, “Bird Flu: A Corporate Bonanza for the Biotech Industry, Tamiflu, Vistide and The Pentagon Agenda (Flu Burung: Untung besar bagi Industri Bioteknologi, Tamiflu, Vistide, dan Agenda Pentagon.

Artikel Enghdahl itu merupakan satu dari tiga artikelnya tentang siapa penangguk keuntungan dari flu burung dan munculnya KKN penguasa AS dengan pengusaha, yang dia sebut sebagai the principle of modern US corrupt special interest politics. Ketiga artikel periset pada GlobalResearch California itu, intinya mempertanyakan bagaimana bisa hanya ada satu perusahaan yang memonopoli pembuatan dan pemasaran Tamiflu di seluruh dunia. Selain itu dipertanyakan pula, mengapa pemusnahan unggas hanya menimpa jutaan unggas milik para peternak kecil Asia dan bukan unggas para peternak raksasa Amerika Serikat.

***

Dalam tulisannya yang berjudul Is Avian Flu another Pentagon Hoax? (Flu Burung Gurauan Lain Pentagon?), Enghdahl memelesetkan Tamiflu dengan “Rummy Flu”. Rummy adalah panggilan Donald H Rumsfeld, mantan Menteri Pertahanan AS. Pemelesetan ini bukan tanpa dasar. Sebab, Rumsfeld memiliki saham terbesar di perusahaan bioteknologi penemu dan pemegang paten Tamiflu, yakni Gilead Sciences Inc.

Saat ini, Gilead memang sudah tidak sepenuhnya menjadi penguasa Tamiflu, sebab perusahaan ini telah menyerahkan hak pemasaran dan paten Tamiflu kepada Hoffman-LaRoche. Roche, yang kepengin mempertahankan keuntungan, menolak permintaan Kongres AS yang memintanya melepas hak eksklusif atas Tamiflu untuk diberikan kepada perusahaan farmasi lain. Alasannya, flu burung masih menyerang berbagai belahan dunia dan perusahaan lain takkan bisa memproduksi Tamiflu secepat Roche.

Gilead pun semakin menggiurkan bagi para pemiliknya begitu Presiden AS, George W Bush, minta Kongres mengucurkan dana darurat baru sebesar 7,1 triliun dolar AS untuk apa yang disebutnya sebagai US flu defense pre-emptive war. Dia pun minta agar dikeluarkan dana untuk pembelian Tamiflu sebesar 1 triliun dolar AS.

Bagi Enghdahl, desakan Bush pada Kongres bagi pengalokasian dana yang demikian besar itu bukan tidak ada “udang” di baliknya. Sebab, bukan rahasia lagi bahwa Rumsfeld adalah kawan dekat orang-orang Gedung Putih. Lagi pula, tidak bisa dilupakan bahwa Kongres berada di bawah kontrol partainya Rumsfeld.

***

Lantas, benarkah raksasa industri peternakan ayam Amerika benar-benar tidak pernah tersentuh oleh serangan virus ataupun bakteri penyebab sakitnya ayam karena mereka menangani peternakan secara baik? Kenyataannya tidaklah demikian. Meskipun tidak ada publikasi bahwa ayam-ayam Amerika terserang flu burung, bukan berarti daging ayam Amerika benar-benar aman tanpa cela.

Misalnya saja bagaimana pengaruh jangka panjang ayam yang dibesarkan dengan jagung dan kedelai hasil rekayasa genetik terhadap kesehatan manusia yang mengkonsumsinya. Juga, ayam-ayam di peternakan AS tidak luput dari penyakit lain yang disebabkan oleh bakteri Salmonella ataupun Campylobacter.

Namun di balik semua kenyataan itu, saat ini sebenarnya sudah dilakukan riset tingkat tinggi di Inggris dan kemungkinan juga di AS untuk mengembangkan metode rekayasa genetik. Dengan metode ini, semua jenis unggas di dunia bisa dibuat kebal terhadap virus flu burung. Hanya saja, hal itu memang tidak dipublikasikan secara luas dan dikembangkan untuk mengatasi persoalan flu burung yang saat ini demikian menghebohkan.

Seandainya metode ini benar-benar teruji dan bisa dikembangkan ke seluruh dunia, tentunya hal ini akan menjadi mimpi buruk bagi Gilead dan Roche. Pastilah orang seperti Rumsfeld dan teman-temannya bakal berduka. Jadi, tidak anehlah kalau orang seperti dia lebih senang kalau flu burung tetap menghantui dunia, sehingga Tamiflunya tetap laris.

Juga, kalaulah industri raksasa peternakan ayam AS saat ini telah mengembangkan ayam yang kebal terhadap flu burung, tidak mungkin mereka akan mengumumkannya. Pastilah mereka berpikir, justru itulah peluang besar bagi mereka untuk menguasai pasar daging ayam dunia.

Monopoli di bidang ekonomi dan hegemoni di bidang politik adalah obsesi para penguasa Amerika. Mereka akan merebutnya dengan berbagai cara, baik secara halus dengan pemanfaatan dan penyebaran isu, ataupun secara kasar dengan todongan moncong peluru kendali.

Cara-cara para penguasa Amerika menaklukkan dunia, sesungguhnya lebih berbahaya dibandingkan dengan munculnya serangan penyakit apapun. Termasuk halnya penyakit flu burung. Dengan demikian, menurut saya, penyakit AI sebagai avian influenza kuranglah mematikan dibandingkan dengan AI sebagai american influenza.

inspired from "Saatnya Dunia, Siti Fadilah Supari"

Rabu, 01 April 2009

Motivasi Surga, Kisah Kurcaca ‘Moncong Putih’ dan Kurcaci PKS

Tergelitik, jika saya menggunakan istilah “kurcaca moncong putih” dan “kurcaci PKS” dalam judul tulisan ini. Kontradiktif memang, tapi ini tidak dalam konteks merendahkan PKS, tentunya. Istilah kurcaca dan kurcaci ini saya pinjam dari syair lagu Bunga Trotoar karya Bang Iwan Fals. Kurcaca sebagai simbol kelompok elit, sedangkan kurcaci simbol kaum akar rumput. Jadi, judul itu memang sesuai dengan kisah yang ingin saya ceritakan ini. Ya, sebuah kisah nyata, yang sahih kebenarannya; kisah antara seorang elit di Partai PDI-Perjuangan dan sebuah keluarga kader atau simpatisan Partai Keadilan Sejahtera. Supaya lebih mudah saya sebut saja kedua tokoh dalam kisah ini Mister Kurcaca dan Sahabat Kurcaci.

***

Kisah bermula ketika, saya ditanyai seorang teman yang juga seorang elit partai berwarna kebangsaan merah itu. “ menurut kamu bagaimana caranya agar kader partaiku juga bisa punya militansi seperti PKS?” tanya Mister Kurcaca.

Oh ya, sebagai penulis (meski amatiran), saya memang harus bergaul dengan kalangan lintaspartai. Bagi saya, mereka semua sahabat. Yah, kecuali yang menggangap saya sebagai musuh. :-D

***

“Wah, jika ingin jadi militan bisa saja. Tapi militansinya akan beda dengan kader PKS,” jawab saya.

“Oh ya, Mister: mengapa tiba-tiba bertanya tentang itu?” tanya saya lagi.

***

Mister Kurcaca pun bercerita kepada saya:

“Begini. Tempo lalu, aku sengaja melihat-lihat demonstrasi teman-teman dari PKS. Nah, pas bubaran, secara tidak sengaja aku melihat sebuah keluarga kader PKS berboncengan naik sepeda motor. Bapak, Ibu dan dua anak. Lengkap!

Tiba-tiba, motor itu berhenti. Si ibu (sahabat kurcaci), yang berjilbab, kemudian turun dari motor. Sambil menggendong anaknya, ia menyebarang ke tengah pembatas jalan. Kamu tahu, untuk apa? Hanya untuk menegakkan sebuah bendera PKS yang terjatuh.

Gila! Apa yang mendorong militansi semacam itu.

Penasaran, aku ikuti mereka. Hingga akhirnya sampai di sebuah toko swalayan kecil. Aku pun memarkir kendaraan di depan toko mini-swalayan itu, sambil menunggu mereka selesai berbelanja. Begitu keluar dari toko, aku sapa mereka: “Assalamu’alaikum”

Aku pun bercerita tentang peristiwa bendera jatuh tadi. Kamu tahu apa jawabannya?

“Motivasi saya surga, Pak!” jawab si Ibu.

Mister Kurcaca tak habis pikir: “Dengan tingkat militansi yang semacam itu, PKS pasti kuat sekali di dalam.”

Bagi saya, kisah ini bisa menjadi pelajaran bagi kedua pihak: PDI Perjuangan maupun PKS. Di mata saya, sebagai sebuah partai besar, PDI-P memang sudah saatnya membangun sebuah sistem kaderisasi berjenjang, lengkap dengan sistem meritrokasi jabatan yang tersistematis sehingga ada semacam iming-iming reward, yang bisa memotivasi setiap kader untuk menjadi militan. Tentu saja, iming-imingnya bukan surga, seperti ala kader PKS tadi.

Bagi PKS, militansi para kader akar rumput semacam itu hendaknya menjadi cermin bagi para elit, yang kini sudah menuai hasil perjuangan mereka: menjadi pejabat publik, apakah itu sebagai pejabat birokrasi (eksekutif) atau legislatif. Jangan cederai keikhlasan semacam itu.

Inget lho, keikhlasan mereka atas nama surga.


Sabtu, 29 Maret 2008


Bukan Remaja Biasa



Pernah beli martabak dengan menu yang "biasa"? Hmm.. Rasanya juga kayaknya biasa-biasa aja. Beda banget dengan martabak yang spesial atau istimewa, baik penyajian maupun rasa, so pasti lebih keren, lebih nikmat. Iya nggak sih? Begitu pun ketika kita disuruh milih produk ponsel misalnya, kita pasti milih produk yang lebih keren ketimbang yang biasa-biasa aja. Kalo ponsel fungsinya sekadar bisa ngirim SMS or nelepon, produk ponsel dari berbagai merek terkenal sekalipun harganya bisa jauh lebih murah. Maklum, fasilitas biasa dan harga 'dirinya' juga biasa, gitu lho. Tapi silahkan bandingkan sendiri dengan produk ponsel yang tak biasa, artinya yang luar biasa dalam arti positif; tampilannya, fiturnya, kemampuannya yang menganggumkan dibanding ponsel biasa, dan pasti harganya juga bakalan lebih mahal. Maklumlah, ponsel "sejuta umat" harganya pasti jauh di bawah ponsel jenis smartphone atau communicator. Bahkan ada barang yang saking kerennya nggak bisa dijual di sembarang tempat dan jumlahnya terbatas.

Sobat muda muslim, kalo ngomongin benda biasa dan luar biasa, insya Allah bisa nyambung ya. Nah, begitu pun dengan diri kita ini. Hidup kita pengen biasa-biasa aja, atau malah pengen banget menjadi luar biasa? Jawaban umumnya pasti ingin menjadi yang luar biasa, menjadi "the special one", menjadi istimewa di hadapan siapa pun. Apakah menjadi istimewa atau spesial, itu bisa dengan sendirinya? Hmm.. Sayangnya nggak tuh. Tapi harus diupayakan sama diri kita sendiri. Sumpah, manusia biasa kayak kita-kita ini nggak ada yang begitu lahir punya kemampuan luar biasa. Seiring dengan perkembangan usia dan juga pendidikan, insya Allah kita akan menjadi luar biasa. Yakin saja asal kita mau belajar dan mau mengubah diri kita untuk menjadi lebih baik lagi dari hari ke hari.

Boys and girls, insya Allah kita bisa menjadi luar biasa. Bukan biasa-biasa aja. Kita juga bisa mempermak diri menjadi remaja luar biasa. Tentu, itu bergantung kepada komitmen kita, tanggung jawab kita, harapan kita, cita-cita kita, dan kerja keras kita. Betul, kita nggak mau kalo cuma dianggap remaja biasa. Sebab, dalam diri kita bersemayam naluri untuk mempertahankan diri, yang salah satu penampakkannya kita nggak mau dianggap rendah. Dalam pergaulan aja, kita pasti nggak mau kan kalo cuma dianggap bilangan aja dalam sebuah komunitas, tapi sekaligus kita juga ingin diperhitungkan. Yup, kita nggak sudi kalo dalam sebuah komunitas dianggap sebagai "ngajejegan" alias pelengkap bin ganjel aja. Tapi keberadaan kita dalam sebuah komunitas itu memang benar-benar diharapkan karena memiliki kelebihan dan kemampuan yang tak dimiliki oleh anggota komunitas pada umumnya. Bro, kamu pasti bisa melakukannya.

Kita semua pasti bisa mengubah diri menjadi yang terbaik. Kalo kata Pak Fauzil 'Adhim yang penulis itu, jika mampu menjadi yang terbaik, menjadi baik saja belum cukup.
Duile, keren abis dah!
So, kalo kamu mampu menjadi keren, maka menjadi biasa-biasa aja apalagi cupu (culun punya) nggak asyik banget. Sumpah tujuh turunan dan tujuh tanjakan!


***
Kita Bukan Hewan Halah, pasti kita semua tahu dan sadar dong kalo diri kita adalah manusia, dan tentunya bukan hewan. Betul, kita semua paham bahwa dilihat dari sisi biologis, kita adalah manusia. Tapi, kalo soal pikiran dan perasaan, nggak otomatis juga kok. Banyak di antara kita ternyata malah mirip-mirip dengan pikiran dan perasaan hewan. Mau contoh? Singa kalo mau makan suka berebut nggak dengan singa lainnya? Kalo kamu perhatiin dalam acara Animal Planet sih emang gitu deh. Main cakar dan saling gigit lawan masing-masing untuk dapetin makanan incerannya. Manusia, kalo nggak belajar norma dan aturan, kayaknya gitu juga deh. Banyak banget kasus gara-gara rebutan penumpang, sopir angkutan umum berantem, malah pake ngeluarin senjata tajam segala. Ujungnya, yang satu masuk bui, yang satu masuk kubur. Rugi semuanya kan? Oya, kita juga paham bahwa antara manusia dan hewan sama-sama memiliki otak. Tapi perbedaannya, hewan nggak dibekali akal, sementara kita diberikan karunia besar oleh Allah SWT berupa kemampuan berpikir. Buktinya, dalam peradaban hewan nggak dikenal kemajuan teknologi, nggak ada juga yang sampe sekarang gajah bisa bikin rumah sendiri, atau sesama gajah saling bantu untuk bikin kandang, nggak ada juga gajah yang jualan bahan bangunan. Ya, karena kemampuannya yang "segitu-gitunya" itu, gajah nggak memiliki kemampuan untuk berpikir. Maka, 'peradaban' gajah nggak berkembang, dari dulu sampe sekarang dan masa yang akan datang, gajah hanya makan makanan yang "itu-itu" juga. Kalo manusia? Hmm.. Mungkin yang mau makan gajah juga ada. Manusia bisa mengolah bahan makanan, seperti singkong aja bisa menjadi produk combro, peuyeum alias tape, colenak, keripik, dan sebagainya. Iya nggak sih? Tapi gajah? Belum ada ceritanya ada combro buatan gajah. Kalo combro yang diinjek gajah bisa jadi ada. Sobat, di dunia hewan nggak dikenal ajang audisi macam Dangdut Mania, Super Mama, Mamamia, KDI, Indonesian Idol, dan lainnya seperti halnya dalam dunia kita, manusia. Di dunia hewan, persaingan mendapat harta dan ketenaran, kayaknya nggak ada seperti dalam kehidupan manusia. Maka, hewan mana pun tak ada yang mencoba bikin ajang seperti yang disebutin di atas. 'Peradaban' hewan nggak mengenal adanya ajang buka aurat, karena emang nggak punya aturan. Maksudnya, mau buka aurat atau nggak, ya emang nggak ada aturannya yang dihasilkan oleh hewan itu sendiri. Nah, adanya aturan itu bagi manusia, justru lahir dari kemampuan berpikir manusia dan kemampuan memahami pesan dari aturan-aturan yang dibuatkan untuk dirinya.

Itu sebabnya, dengan segala perbedaan antara manusia dan hewan, jelas banget konsekuensi hidup dan tanggung jawab hidup antara manusia dan hewan juga beda banget. Bener lho. Allah SWT nggak mengatur hewan betina yang sudah baligh kalo keluar kandang harus menutup aurat, pake jilbab, dan pake kerudung (khimar). Nggak ada pula aturan bahwa sapi jantan harus melakukan ghadul bashar alias menundukkan pandangan ketika melihat sapi betina lewat di depannya. Kedua aturan itu hanya untuk manusia. Yup, manusia. Karena manusia dibekali kemampuan berpikir. Tapi, sedih banget karena sekarang banyak manusia yang melanggar aturan. Kamu bisa lihat sendiri, wanita yang udah baligh pas keluar rumah malah membuka auratnya, atau sengaja memamerkannya kepada khalayak ramai tanpa ingat dosa sekaligus lupa bahwa dirinya sebagai manusia punya kemampuan memahami aturan bagi kehidupannya.

Hmm.. Menyedihkan banget. Benar-benar tragedi kemanusiaan yang terbesar dan terberat. Padahal, Allah SWT udah mewanti-wanti manusia dengan firmanNya, "Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu bagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai." (QS. Al-A'raaf [7] : 179). Waduh, kita yang nggak mau nurut sama aturan yang dibuatkan oleh Allah SWT untuk kita, kayaknya siap-siap dicap mirip binatang ternak kelakuannya. Iya, maksudnya adalah karena kita udah diberikan kemampuan untuk berpikir, sementara hewan nggak, tapi kelakuan kita malah beda tipis atau malah sama dengan hewan. Iya kan?


***
Menjadi Luar Biasa dengan Takwa Okelah, kalo disamain dengan hewan kayaknya banyak yang nggak mau meski faktanya ternyata mendekati 'sempurna' dengan hewan dalam soal perilaku. Sekarang kita ngomongin sesama kita sendiri. Meski manusia diciptakan dari bahan yang sama, yakni dari sel sperma dan sel telur, tapi hasil akhirnya nggak ada yang sama. Para begundal macam Mussolini, Hitler, dan Vladimir Lenin sekalipun, diciptakan dari tetes air hina. Sama dengan para ulama dan orang baik-baik lainnya diciptakan dari bahan tersebut oleh Allah SWT. Tapi kehidupan di dunia yang memolesnya menjadi berbeda. Dan, semua itu memang ada konsekuensinya atas segala yang menjadi pilihan hidup mereka. Allah SWT berfirman, "Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani). Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya roh (ciptaan)Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur." (QS. As-Sajdah [32] : 7-9). Menjadi manusia biasa, dalam arti bahwa kita nggak mau berkembang menjadi lebih baik, tentunya sangat menyedihkan sekali. Kita banyaknya tuh "panasan" hati manakala temen kita punya ponsel baru, punya pakaian baru, atau harta dan kesenangan dunia lainnya. Buru-buru deh untuk meredam panasnya hari akibat iri itu, kita beli ponsel atau harta dan kesenangan sejenis, bila perlu yang lebih baik dari teman saingan kita itu. Tapi sungguh sangat disayangkan, untuk masalah ibadah kok jarang banget yang "panasan" hatinya ya? Lihat temennya yang pake kerudung dan jilbab, hatinya nggak panas, malah biasa-biasa saja. Nggak ngiri, gitu lho. Lihat temennya aktif di masjid dan ngurus remaja masjid, hatinya sedikit pun nggak 'terbakar' untuk melakukan hal yang sama. Aneh ya? Ya, bener-bener heran. Bro, padahal dengan rajinnya kita ibadah kepadaNya dan menjadi takwa itulah yang akan membuat diri kita spesial dan bukan manusia biasa di hadapan Allah SWT langsung, bukan cuma di hadapan manusia. Sebab, ketakwaanlah yang menjadi ukuran biasa dan bukan biasa. Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu." (QS. Al-Hujuraat [49] : 13). Subhanallah, masa sih kita nggak mau jadi orang yang istimewa nan mulia, apalagi di hadapan Allah SWT? Kebangetan kalo sampe kita ogah dapat sebutan orang-orang yang bertakwa. Imam Syafi'i rahimahullah berkata, "Barangsiapa belajar Al-Qur'an, maka ia akan agung di pandangan manusia. Barangsiapa yang belajar hadits, akan kuat hujjahnya. Barang siapa yang belajar nahwu, maka dia akan dicari. Barang siapa yang belajar bahasa Arab, akan lembut tabiatnya. Barang siapa yang belajar ilmu hitung, akan banyak fikirannya. Barang siapa belajar fiqih, akan tinggi kedudukannya. Barang siapa yang tidak mampu menahan dirinya, maka tidak bermanfaat ilmunya. Dan inti dari itu semua adalah takwa." (Kalam Hikmah Imam Syafi'i karya Shalih Ahmad Asy-Syami).

Boyz and girlz, kita harus bangga lho menjadi remaja yang bertakwa, karena ketakwaan kita kepada Allah akan membuat kita mulia di hadapanNya dan tentu bukan remaja biasa. Maklumlah, menjadi takwa itu berat, harus belajar, harus menahan diri dari perbuatan dosa, harus taat kepada aturan Allah SWT meskipun aturanNya membuat kita berat melakukannya. Intinya sih, yuk kita benahi diri kita dengan meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Cara mudahnya adalah belajar. Belajar memahami Islam dengan benar dan baik. Yuk, kita amalkan Islam secara utuh, yakni sebagai aqidah dan syari'at. Meski berat dan merasa terpaksa, tapi kita harus tetap taat demi meraih derajat orang-orang yang bertakwa dan menjadi remaja luar biasa takwanya. Bukan lagi remaja biasa. So, pada akhirnya kalo boleh memilih sih, "Lebih baik masuk surga secara terpaksa, daripada masuk neraka dengan kesadaran penuh." Tul nggak sih? [danurjs-agent004] --------------------------------------------------------------------------------

Jumat, 28 Maret 2008

Remaja di Persimpangan Jalan

Para remaja muda-mudi kita adalah warisan kita bagi masa depan. Mereka adalah aset yang berharga agar agama Islam tetap dihayati dan dipraktikkan oleh masyarakat Islam di masa yang akan datang. Mereka adalah harapan masyarakat dan negara. Maka adalah penting bagi kita memastikan agar mereka bersedia untuk membawa panji perjuangan kita di masa yang akan datang. Mereka mesti menjadi orang-orang yang bisa diharapkan, bukan saja untuk membina masyarakat dan negara yang maju, tetapi yang lebih penting adalah agar Islam akan terus menjadi panduan masyarakat.

Alhamdulillaah, sekarang sudah banyak contoh-contoh yang baik yang bisa kita ambil sebagai teladan. Kita mempunyai golongan muda-mudi Islam yang bisa menjadi kebanggaan dan harapan masyarakat. Dan sekarang kita melihat semakin ramai anak muda kita yang mempunyai kesadaran dan penghayatan terhadap agama Islam. Mereka ingin mempraktikkan Agama Islam dalam semua aspek kehidupan mereka. Ini harus dibanggakan dan disebarluaskan agar lebih semarak remaja dan golongan muda menjadikan Islam sebagai kehidupan mereka. Akan tetapi masih banyak di kalangan remaja kita yang terbawa budaya yang bertentangan dengan nilai-nilai murni Islam. Sebagai contoh, setiap tahun lebih dari 100 pasangan Islam mendaftarkan diri untuk menikah dengan calon istri yang sudah hamil. Sebagian besar di antara mereka akan melahirkan anak diluar nikah sementara sebagian kecil menggugurkan kandungan mereka. Adakah ini yang kita inginkan dalam masyarakat Islam kita?

Adakah ini yang dikatakan sebagai khairul ummah atau sebaik-baik umat?

Semakin banyak remaja kita yang tanpa segan dan malu membuka aurat mereka. Malah ada yang lebih berani lagi. Mereka berdua-duaan dan berkelakuan tidak senonoh di tempat umum. Ini bertentangan dengan ajaran Islam. Pertanyaannya, mengapa mereka melakukan hal yang demikian? Banyak faktor yang berperan. Tetapi yang paling terlihat adalah faktor pendoktrinan terhadap budaya-budaya asing (Ghazwul Fikr). Kalau zaman dahulu ada televisi.
Sekarang ini kita menghadapi pula teknologi internet dan televisi kabel yang mana segala bentuk informasi dapat diraih hanya dengan menekan tombol remote saja. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa internet dan televisi kabel membawa kebaikan. Dengannya kita lebih tahu perkembangan dunia dan ilmu-ilmu sains terkini. Masyarakat kita tidak lagi seperti katak di bawah tempurung. Berbagai manfaat yang dapat kita peroleh. Akan tetapi internet dan televisi kabel juga membawa unsur-unsur yang bertentangan dengan nilai Islam. Dan jika kita tidak dibentengi dan diperkuat dengan agama, maka kita juga bisa terpedaya dengan unsur-unsur negatif tersebut. Setiap kali kita menonton film barat, akan dipaparkan adegan-adegan yang tidak sesuai dengan Islam. Setiap kali kita menonton televisi kita akan mendengar perkataan-perkataan jorok. Setiap kali kita menonton televisi kita akan disajikan dengan gaya hidup yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam.

Bayangkanlah! Seorang remaja yang masih memerlukan bimbingan dalam kehidupan mereka, disajikan setiap hari dengan budya hidup yang bertentangan dengan Islam, tidakkah ia akan mudah terpengaruh? Di internet pula, halaman porno dengan mudah dilihat. Kalau ini menjadi menu harian kepada anak-anak Islam kita semasa mereka sedang ABG, maka tidak heran akhirnya nilai-nilai Islam menjadi asing bagi mereka. Dalam kondisi semacam ini, siapakah yang harus disalahkan? Setiap orang tua bertanggung-jawab mendidik anak-anak mereka dengan nilai-nilai Islam. Anak-anak adalah amanah Allah. Dan Allah akan minta pertanggungjawaban kita di akhirat kelak mengenai pendidikan terhadap anak-anak kita tersebut. Berapa banyak orang tua yang akan diseret ke neraka atas perbuatan anak-anak mereka?! Kita tidak boleh menyalahkan televisi kabel atau internet atas keruntuhan akhlak para remaja dan pemuda zaman sekarang ini. Sebaliknya kita perlu merenung kembali. Adakah kita sudah memainkan peranan yang secukupnya sebagai seorang Ayah atau ibu dan atau sebagai seorang abang atau kakak? Adakah kita sudah memainkan peranan dalam mendidik dan menanamkan keimanan dalam jiwa anak-anak muslim kita sehingga mereka tidak mudah terperdaya? Sudahkan anak-anak kita diberi pengajaran Islam yang secukupnya untuk mereka menghadapi dunia sekarang yang penuh godaan ini. Anak-anak semula memandang orang tua mereka sebagai panduan hidup mereka. Sekiranya orang tua tidak memberikan contoh yang baik, sekiranya orang tua sendiri terpengaruh dengan unsur-unsur negatif Barat, maka tidak heranlah jika anak-anak mereka juga berkelakukan demikian. Seperti kata pepatah : Ayah Kencing Berdiri, anak Kencing berlari. Akan tetapi kalau orang tua menunjukkan contoh yang baik terhadap anak-anak mereka, menjadikan keluarga mereka sebagai keluarga Islami, yang menerapkan nilai-nilai Islam dalam keluarga mereka, maka percayalah, anak-anak mereka juga akan menjadikan Islam sebagai panduan kehidupan mereka. Melalui tulisan kali ini, saya ingin menyeru kepada para remaja dan pemuda kita, agar menyadari bahwa mereka adalah harapan keluarga dan negara. Jika mereka menjalankan tanggung-jawab sebagai Pemuda Islam yang dinamis, maka masyarakat kita dan negara akan menjadi lebih maju lagi. Akan tetapi jika mereka lebih mementingkan keseronokan dan hiburan sehingga lalai dari tanggung-jawab, maka masyarakat dan negara kita akan menjadi lemah.

Sebagai remaja Muslim, kita mempunyai empat tanggung-jawab : Pertama : Kita WAJIB sadar bahwa waktu remaja bukanlah untuk berhura-hura, tetapi waktu tersebut WAJIB diisi dengan mencari ilmu pengetahuan dan menghayati Agama Islam. Jadikan waktu tersebut sebagai persiapan untuk menghadapi masa depan apabila kita semakin tua kelak. Kedua : Kita tidak mudah terperdaya dengan unsur-unsur negatif. Ambillah budaya yang baik dari siapapun dalam mencari dan meningkatkan ilmu. Tetapi kekalkan akhlak dan cara kehidupan orang Islam. Kita akan menjadi orang yang paling disegani dan dihormati kelak. Kita akan Mulia di dunia dan di akhirat, insya Allah. Ketiga : Sebagai remaja, janganlah kita menghabiskan masa berkhayal dengan perasaan cinta dan mencari pasangan. Hal itu tidak membawa banyak hasil. Malah waktu kita yang berharga yang sepatutnya dihabiskan dengan mencari ilmu atau berbakti kepada masyarakat. Keempat : Hormatilah Orang Tua kita, walaupun pada pandangan kita mereka tidak memahami jiwa dan perasaan kita. Sesungguhnya, Orang tua kita adalah pintu syurga. Sekiranya kita tidak sependapat dengan mereka maka katakanlah dengan nada yang lembut dan sopan, bukan dengan membentak dan menunjukkan marah.

Firman Allah SWT dalam surah Al-Isra', ayat 23 yang artinya, "Dan Tuhanmu telah menentukan agar kamu jangan menyembah melainkan Allah dan hendaklah kamu berbuat baik dengan mereka. Jika salah seorang dari mereka atau kedua-dua mereka telah berusia tua, maka janganlah berkata kasar kepada mereka, akan tetapi ucapkan kepada mereka dengan ucapan yang baik dan lembut."

Kamis, 27 Maret 2008

bukan remaja biasa


Bukan Remaja Biasa

Pernah beli martabak dengan menu yang "biasa"? Hmm.. Rasanya juga kayaknya biasa-biasa aja. Beda banget dengan martabak yang spesial atau istimewa, baik penyajian maupun rasa, so pasti lebih keren, lebih nikmat. Iya nggak sih? Begitu pun ketika kita disuruh milih produk ponsel misalnya, kita pasti milih produk yang lebih keren ketimbang yang biasa-biasa aja. Kalo ponsel fungsinya sekadar bisa ngirim SMS or nelepon, produk ponsel dari berbagai merek terkenal sekalipun harganya bisa jauh lebih murah. Maklum, fasilitas biasa dan harga 'dirinya' juga biasa, gitu lho. Tapi silahkan bandingkan sendiri dengan produk ponsel yang tak biasa, artinya yang luar biasa dalam arti positif; tampilannya, fiturnya, kemampuannya yang menganggumkan dibanding ponsel biasa, dan pasti harganya juga bakalan lebih mahal. Maklumlah, ponsel "sejuta umat" harganya pasti jauh di bawah ponsel jenis smartphone atau communicator. Bahkan ada barang yang saking kerennya nggak bisa dijual di sembarang tempat dan jumlahnya terbatas.

Sobat muda muslim, kalo ngomongin benda biasa dan luar biasa, insya Allah bisa nyambung ya. Nah, begitu pun dengan diri kita ini. Hidup kita pengen biasa-biasa aja, atau malah pengen banget menjadi luar biasa? Jawaban umumnya pasti ingin menjadi yang luar biasa, menjadi "the special one", menjadi istimewa di hadapan siapa pun. Apakah menjadi istimewa atau spesial, itu bisa dengan sendirinya? Hmm.. Sayangnya nggak tuh. Tapi harus diupayakan sama diri kita sendiri. Sumpah, manusia biasa kayak kita-kita ini nggak ada yang begitu lahir punya kemampuan luar biasa. Seiring dengan perkembangan usia dan juga pendidikan, insya Allah kita akan menjadi luar biasa. Yakin saja asal kita mau belajar dan mau mengubah diri kita untuk menjadi lebih baik lagi dari hari ke hari.

Boys and girls, insya Allah kita bisa menjadi luar biasa. Bukan biasa-biasa aja. Kita juga bisa mempermak diri menjadi remaja luar biasa. Tentu, itu bergantung kepada komitmen kita, tanggung jawab kita, harapan kita, cita-cita kita, dan kerja keras kita. Betul, kita nggak mau kalo cuma dianggap remaja biasa. Sebab, dalam diri kita bersemayam naluri untuk mempertahankan diri, yang salah satu penampakkannya kita nggak mau dianggap rendah. Dalam pergaulan aja, kita pasti nggak mau kan kalo cuma dianggap bilangan aja dalam sebuah komunitas, tapi sekaligus kita juga ingin diperhitungkan. Yup, kita nggak sudi kalo dalam sebuah komunitas dianggap sebagai "ngajejegan" alias pelengkap bin ganjel aja. Tapi keberadaan kita dalam sebuah komunitas itu memang benar-benar diharapkan karena memiliki kelebihan dan kemampuan yang tak dimiliki oleh anggota komunitas pada umumnya.

Bro, kamu pasti bisa melakukannya. Kita semua pasti bisa mengubah diri menjadi yang terbaik. Kalo kata Pak Fauzil 'Adhim yang penulis itu, jika mampu menjadi yang terbaik, menjadi baik saja belum cukup. Duile, keren abis dah! So, kalo kamu mampu menjadi keren, maka menjadi biasa-biasa aja apalagi cupu (culun punya) nggak asyik banget. Sumpah tujuh turunan dan tujuh tanjakan!


***


Kita Bukan Hewan

Halah, pasti kita semua tahu dan sadar dong kalo diri kita adalah manusia, dan tentunya bukan hewan. Betul, kita semua paham bahwa dilihat dari sisi biologis, kita adalah manusia. Tapi, kalo soal pikiran dan perasaan, nggak otomatis juga kok. Banyak di antara kita ternyata malah mirip-mirip dengan pikiran dan perasaan hewan. Mau contoh? Singa kalo mau makan suka berebut nggak dengan singa lainnya? Kalo kamu perhatiin dalam acara Animal Planet sih emang gitu deh. Main cakar dan saling gigit lawan masing-masing untuk dapetin makanan incerannya. Manusia, kalo nggak belajar norma dan aturan, kayaknya gitu juga deh. Banyak banget kasus gara-gara rebutan penumpang, sopir angkutan umum berantem, malah pake ngeluarin senjata tajam segala. Ujungnya, yang satu masuk bui, yang satu masuk kubur. Rugi semuanya kan?

Oya, kita juga paham bahwa antara manusia dan hewan sama-sama memiliki otak. Tapi perbedaannya, hewan nggak dibekali akal, sementara kita diberikan karunia besar oleh Allah SWT berupa kemampuan berpikir. Buktinya, dalam peradaban hewan nggak dikenal kemajuan teknologi, nggak ada juga yang sampe sekarang gajah bisa bikin rumah sendiri, atau sesama gajah saling bantu untuk bikin kandang, nggak ada juga gajah yang jualan bahan bangunan. Ya, karena kemampuannya yang "segitu-gitunya" itu, gajah nggak memiliki kemampuan untuk berpikir. Maka, 'peradaban' gajah nggak berkembang, dari dulu sampe sekarang dan masa yang akan datang, gajah hanya makan makanan yang "itu-itu" juga. Kalo manusia? Hmm.. Mungkin yang mau makan gajah juga ada. Manusia bisa mengolah bahan makanan, seperti singkong aja bisa menjadi produk combro, peuyeum alias tape, colenak, keripik, dan sebagainya. Iya nggak sih? Tapi gajah? Belum ada ceritanya ada combro buatan gajah. Kalo combro yang diinjek gajah bisa jadi ada.

Sobat, di dunia hewan nggak dikenal ajang audisi macam Dangdut Mania, Super Mama, Mamamia, KDI, Indonesian Idol, dan lainnya seperti halnya dalam dunia kita, manusia. Di dunia hewan, persaingan mendapat harta dan ketenaran, kayaknya nggak ada seperti dalam kehidupan manusia. Maka, hewan mana pun tak ada yang mencoba bikin ajang seperti yang disebutin di atas.

'Peradaban' hewan nggak mengenal adanya ajang buka aurat, karena emang nggak punya aturan. Maksudnya, mau buka aurat atau nggak, ya emang nggak ada aturannya yang dihasilkan oleh hewan itu sendiri. Nah, adanya aturan itu bagi manusia, justru lahir dari kemampuan berpikir manusia dan kemampuan memahami pesan dari aturan-aturan yang dibuatkan untuk dirinya. Itu sebabnya, dengan segala perbedaan antara manusia dan hewan, jelas banget konsekuensi hidup dan tanggung jawab hidup antara manusia dan hewan juga beda banget. Bener lho.

Allah SWT nggak mengatur hewan betina yang sudah baligh kalo keluar kandang harus menutup aurat, pake jilbab, dan pake kerudung (khimar). Nggak ada pula aturan bahwa sapi jantan harus melakukan ghadul bashar alias menundukkan pandangan ketika melihat sapi betina lewat di depannya. Kedua aturan itu hanya untuk manusia. Yup, manusia. Karena manusia dibekali kemampuan berpikir. Tapi, sedih banget karena sekarang banyak manusia yang melanggar aturan. Kamu bisa lihat sendiri, wanita yang udah baligh pas keluar rumah malah membuka auratnya, atau sengaja memamerkannya kepada khalayak ramai tanpa ingat dosa sekaligus lupa bahwa dirinya sebagai manusia punya kemampuan memahami aturan bagi kehidupannya. Hmm.. Menyedihkan banget. Benar-benar tragedi kemanusiaan yang terbesar dan terberat. Padahal, Allah SWT udah mewanti-wanti manusia dengan firmanNya, "Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu bagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai." (QS. Al-A'raaf [7] : 179).

Waduh, kita yang nggak mau nurut sama aturan yang dibuatkan oleh Allah SWT untuk kita, kayaknya siap-siap dicap mirip binatang ternak kelakuannya. Iya, maksudnya adalah karena kita udah diberikan kemampuan untuk berpikir, sementara hewan nggak, tapi kelakuan kita malah beda tipis atau malah sama dengan hewan. Iya kan?


***


Menjadi Luar Biasa dengan Takwa

Okelah, kalo disamain dengan hewan kayaknya banyak yang nggak mau meski faktanya ternyata mendekati 'sempurna' dengan hewan dalam soal perilaku. Sekarang kita ngomongin sesama kita sendiri. Meski manusia diciptakan dari bahan yang sama, yakni dari sel sperma dan sel telur, tapi hasil akhirnya nggak ada yang sama. Para begundal macam Mussolini, Hitler, dan Vladimir Lenin sekalipun, diciptakan dari tetes air hina. Sama dengan para ulama dan orang baik-baik lainnya diciptakan dari bahan tersebut oleh Allah SWT. Tapi kehidupan di dunia yang memolesnya menjadi berbeda. Dan, semua itu memang ada konsekuensinya atas segala yang menjadi pilihan hidup mereka.

Allah SWT berfirman, "Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani). Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya roh (ciptaan)Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur." (QS. As-Sajdah [32] : 7-9).

Menjadi manusia biasa, dalam arti bahwa kita nggak mau berkembang menjadi lebih baik, tentunya sangat menyedihkan sekali. Kita banyaknya tuh "panasan" hati manakala temen kita punya ponsel baru, punya pakaian baru, atau harta dan kesenangan dunia lainnya. Buru-buru deh untuk meredam panasnya hari akibat iri itu, kita beli ponsel atau harta dan kesenangan sejenis, bila perlu yang lebih baik dari teman saingan kita itu. Tapi sungguh sangat disayangkan, untuk masalah ibadah kok jarang banget yang "panasan" hatinya ya? Lihat temennya yang pake kerudung dan jilbab, hatinya nggak panas, malah biasa-biasa saja. Nggak ngiri, gitu lho. Lihat temennya aktif di masjid dan ngurus remaja masjid, hatinya sedikit pun nggak 'terbakar' untuk melakukan hal yang sama. Aneh ya? Ya, bener-bener heran.

Bro, padahal dengan rajinnya kita ibadah kepadaNya dan menjadi takwa itulah yang akan membuat diri kita spesial dan bukan manusia biasa di hadapan Allah SWT langsung, bukan cuma di hadapan manusia. Sebab, ketakwaanlah yang menjadi ukuran biasa dan bukan biasa. Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu." (QS. Al-Hujuraat [49] : 13).

Subhanallah, masa sih kita nggak mau jadi orang yang istimewa nan mulia, apalagi di hadapan Allah SWT? Kebangetan kalo sampe kita ogah dapat sebutan orang-orang yang bertakwa. Imam Syafi'i rahimahullah berkata, "Barangsiapa belajar Al-Qur'an, maka ia akan agung di pandangan manusia. Barangsiapa yang belajar hadits, akan kuat hujjahnya. Barang siapa yang belajar nahwu, maka dia akan dicari. Barang siapa yang belajar bahasa Arab, akan lembut tabiatnya. Barang siapa yang belajar ilmu hitung, akan banyak fikirannya. Barang siapa belajar fiqih, akan tinggi kedudukannya. Barang siapa yang tidak mampu menahan dirinya, maka tidak bermanfaat ilmunya. Dan inti dari itu semua adalah takwa." (Kalam Hikmah Imam Syafi'i karya Shalih Ahmad Asy-Syami).

Boyz and gaiz, kita harus bangga lho menjadi remaja yang bertakwa, karena ketakwaan kita kepada Allah akan membuat kita mulia di hadapanNya dan tentu bukan remaja biasa. Maklumlah, menjadi takwa itu berat, harus belajar, harus menahan diri dari perbuatan dosa, harus taat kepada aturan Allah SWT meskipun aturanNya membuat kita berat melakukannya. Intinya sih, yuk kita benahi diri kita dengan meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Cara mudahnya adalah belajar. Belajar memahami Islam dengan benar dan baik. Yuk, kita amalkan Islam secara utuh, yakni sebagai aqidah dan syari'at. Meski berat dan merasa terpaksa, tapi kita harus tetap taat demi meraih derajat orang-orang yang bertakwa dan menjadi remaja luar biasa takwanya. Bukan lagi remaja biasa.

So, pada akhirnya kalo boleh memilih sih, "Lebih baik masuk surga secara terpaksa, daripada masuk neraka dengan kesadaran penuh." Tul nggak sih? [danurjs-agent004]


--------------------------------------------------------------------------------